Bersendiri, belajar tahu dari kesalahan

Mengapa ya…aku kok merasa bingung posting di sini, padahal ini dalah blog pertamaku sejak aku mengenal dunia maya. Aku belajar menapak disini, belajar dari salah dan belajar memperbaiki sendiri.Berbekal rasa keingin tahuan yang besar, dari coba-coba, salah, memperbaiki dan mencoba lagi. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan dan kegigihan yang di anugerahkan Allah padaku, akhirnya aku bisa up date juga.

Hik hik hik….lucu juga membaca postingan terdahuluku. Hanya karena aku belum tahu tekhnis postingan, akhirnya tulisanku jadi berseri:)  Seperti cerpen aja yaaa, padahal asli tak bermaksud demikian lho! Tapi biarlah ia tetap demikian, aku tak akan mengeditnya, agar suatu saat kelak, aku bisa mengenang kembali masa-masa awal aku meng update tulisan. Dari kesalahan yang kupertahankan, dia akan menjadi bahan pelajaran berharga  untuk menjadi lebih baik.

Read more…

Kembali ke rumah lamaku

Terakhir kali aku menulis di sini sekitar bulan april lalu. Terus terang, awal aku postingan, semua berdasar kenekatan dan coba-coba. Main berani saja, ngeblog sambil belajar.Makanya…mengapa blog ku ini keliatan seperti apa adanya saja.

Selama tidak aktif di sini, aku coba berselancar ( juga sambil belajar) di Blogspot.
Di blogspot aku bahkan sudah memposting beberapa judul, bahkan mengelolah 2 blog sekaligus.
Bukan aku tak perduli atau mau melupakan blog ini, tetapi semua karena keminimanku dalam menguasai bahasa inggris.

Bagaimanapun, aku tak mungkin melupakan atau mengabaikan blog ini begitu saja. Ibarat rumah, WordPress ini adalah awal aku membangun tempat tinggal. Aku mulai belajar segalanya dari sini.
Bisa juga kuibaratkan ini adalah tempat pertamaku belajar tentang dunia maya. Seperti Play Group lah, begitu istilahku.

Hari ini, aku kembali mengunjungi rumah lamaku, tetap masih seperti ketika kutinggal beberapa bulan lalu. Keliatannya tak ada yang mengetahui rumahku ini, setidaknya itu yang terfikir olehku karena semua postinganku masih tetap terpajang sendiri, tanpa komentar dari siapapun.

Kucoba membenahi kembali meski dengan pengetahuan yang minim, berharap aku bisa tahu lebih banyak lagi tentang WordPress ini. Ya….seperti di Blogspot, dimana aku belajar sendiri tahap demi tahap. Istilahku sehari belajar satu, akhirnya semua jadi tau. Mudah-mudahan…ada teman sesama blogger yang berbaik hati dan mau mengajariku.

Makna di balik amanah (sambungan 3 )

“…Ya  Tuhanku,tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan  kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhoi, berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepadaMu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.(Qs. Al-AhQaf 15).

Doa inilah yang sering kupanjatkan setiap usai shalat sejak bertahun-tahun lalu. Tapi, subhanallah…! Aku tak pernah tahu jika ternyata doa tersebut adalah penggalan ayat yang berkaitan dengan usia 40 th! Ini baru kuketahui setelah aku membaca2 literatur yang berkaitan dengan materi yang akan kubawakan. Ternyata, ayat sebelumnya berbunyi….” Sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai 40 thn, ia berdoa….” ya Tuhanku…dst.”

Berawal dari amanah ini, aku makin banyak tahu hal-hal yang berkaitan dengan usia ini, hikmah dibaliknya dan rahasia2 lainnya yg belum kutahu sebelumnya. Maha Besar Engkau Rabb, tak ada sesuatu yang terjadi diluar kehendakMu.Ternyata Engkau memberi aku pengetahuan melalui amanah ini.

Tak tahu, kata apa lagi yang akan ku ucapkan atas hikmah  ini. Yang pasti, aku bersyukur bahwa amanah yang tadinya sempat kutolak, ternyata jalan yang ditunjukkan Allah bagiku tentang usia yang sekarang ini kujalani. Semoga kedepannya, Allah SWT selalu membimbing dan menunjukkan jalan bagiku serta menganugerahkan keikhlasan pada setiap langkah, ucap dan tindakanku. Amin…

 

 

 

 

 

Makna dibalik amanah (sambungan)

Begitulah, aku mencoba mencari tahu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan materi tersebut.Dimulai dari buku kecil yang direkomendasikan oleh  seorang teman, memcari di internet dan melengkapinya dengan bacaan lain yang kupunya. Subhanallah…. aku tertegun dan merenungkan apa yang kualami selama masa persiapanku dalam membawakan materi tersebut.

Amanah yang tadinya sempat kutolak bahkan sempat kuanggap beban, ternyata merupakan jalan yang ditujukan Allah SWT bagiku untuk mengetahui lebih banyak tentang rahasia usia 40 tahun. Selama ini aku hanya tahu bahwa usia tersebut dianggap istimewa karena merupakan usia dimana seseorang mencapai puncak kematangan emosional, lebih bijaksana, bahkan untuk sebahagian orang, akan mengalami masa puber kedua,hanya sebatas itu!

Sungguh tak pernah ku tahu bahwa didalam alqur,an, ada ayat tersendiri yang menyebut usia 40tahun. Yang  membuat aku lebih dalam memikirkan keRahmanan Allah SWT adalah bahwa penggalan dari ayat yang dimaksud sudah aku hafal jauh sebelum aku masuk kedalam dunia dakwah! Bahkan hampir setiap selesai shalat, penggalan ayat tersebut selalu aku panjatkan sebagai doa.    (yaaa bersambung lagi…)

Akhwat juga manusia

Alhamdulillah, akhirnya Allah menunjukkan jalan yang baik bagi kami semua.

Entah apa yang terjadi dengan akhwat akhir2 ini. Selalu saja ada masalah yang kelihatannya agak susah menemukan jalan keluarnya. Begitu mudah saling menumpahkan perasaan, marah, sedih, kesal bahkan kadang ada kerling kebencian. Atau apakah aku yang salah menilai?

Kucoba mencari penyebab semua dan berharap dapat menemukan akar permasalahannya, tapi aku bahkan terjebak dalam masalah itu sendiri. Aku sempat merasa kurang nyaman dengan seorang akhwat senior yang selama ini aku kagumi, bahkan hampir kuanggap sempurna. Rasa tak nyaman itu bahkan tersimpan selama berbulan bulan dan sempat membuat aku menjaga jarak dengan akhwat tersebut, menghindarinya dan bahkan mencurahkan rasa tak enakku pada akhwat yang lain. Astagfirullah, tanpa kusadari, aku terjerumus dalam gibah. Nauzubillah min zalik.

Begitulah, selama berbulan bulan kusimpan perasaan itu, mencoba ikhlas menjalani semua ketidak nyamanan tersebut, tapi ternyata aku tak berhasil. Semakin kucoba tuk bersabar, semakin kuat juga rasa tak suka  itu menghujam, menyesakkan dadaku. Sampai akhirnya tanpa kuasa kubendung, rasa tak sukaku akhirnya terwakili juga dengan sikap kerasku dalam menanggapi pernyataannya pada suatu pertemuan.

Anehnya aku merasa asing dengan diriku sendiri. Aku bertanya pada diri sendiri, benarkah  yang berbicara tadi adalah aku yang selama ini di didik dengan santun dan diajarkan bertata krama? Mengapa tiba-tiba saja aku berubah jadi berbicara keras, bahkan sedikit membangkang? Apa yang terjadi padaku?

Hampir seminggu aku masih terus mencari jawaban atas perubahan karakterku tersebut, sampai akhirnya semua tercurah ditempat dan saat yang tak terencana. Subhanallah, Mahasuci Engkau Rabb yang telah menunjukkan jalan bagiku.

Ya, Dirumah murabbiyahku, ketika acara sharing sebagai ganti tarbiyah, akhirnya kutumpahkan semua unek-unek yang selama ini mengganjal dalam hatiku.Tapi aku tak mau mengungkapkannya disini. Tak etis bagiku mengungkapkannya. Biarlah hanya Allah, aku dan teman teman akhwatku saja yang tau. Alhamdulillah, ternyata aku tak salah mengungkapkannya kepada murabbiyahku dihadapan akhwat yang lain, karena sejak saat itu aku merasa lebih lapang. Aku bahkan sudah dapat berkomunikasi dengan akhwat yang kumaksud tanpa ada rasa enggan lagi. Bahkan aku sudah mulai dapat bercanda, menggodanya seperti sebelumnya, dan  saling berbagi rasa seperti sediakala.

Subhanallah, ternyata sungguh tak nyaman menyimpan rasa tak senang terhadap sesama. Pengalaman yang dapat kupetik dari pengalaman ini adalah bahwa siapapun, bisa saja dihinggapi rasa tak nyaman atas perkataan, perbuatan orang lain, walaupun orang tersebut adalah akhwat yang tertarbiyah sekalipun. Ya, akhwat juga manusia biasa yang kadang khilaf, melakukan kesalahan yang bisa saja tidak dia sadari.

Hikmah lain yang dapat kupetik dari kejadian ini adalah bagaimana kita mencoba memahami seseorang. Dibalik semua kata atau perbuatan seseorang, pasti ada sesuatu hal yang menjadi sebab dia melakukannya. Bagiku, memang lebih bijakasana jika kita tak bertanya”mengapa kau melakukan ini padaku?”, tetapi mencoba mencari jawab atas tanya “mengapa ia berbuat begini?”.

Ya, mungkin tidak semua orang sependapat dengan ini, tapi ingin kukatakan, “cobalah!”. Siapa tau anda lalu bisa spendapat denganku.

 

 

Makna di balik amanah

Pernah dapat amanah? Bagaimana perasaan anda? Senangkah, sedihkah, atau merasa terbebani…….? Coba simak apa yang kualami ini, mungkin akan merubah pendapat anda tentang sebuah amanah!

Suatu saat, aku diamanahi untuk mengisi acara POS (Pertemuan Orangtua Santri) oleh seorang akhwat yang pada saat atu tak dapat menjalankan amanah yang diberikan kepadanya karena suatu urusan. Jujur, saat itu aku tak siap sama sekali, karena menurutku, aku belum pantas menerima amanah tersebut. Aku masih belum punya keberanian untuk berbicara di depan umum, apalagi dihadapan ibu-ibu yang berlatar belakang berbagai macam status dan disiplin ilmu. Aku merasa enggan, berat dan bahkan menolak dengan berbagai alasan. Tetapi semakin kuat aku menolak, semakin keras juga aku dikondisikan untuk mengemban amanah tersebut.

Dan akhirnya, dengan sedikit terpaksa akhirnya kuterima juga amanah tersebut, meski kuanggap itu sedikit nekat. Betapa tidak, aku sama sekali tak faham dan tak memiliki pengetahuan yang cukup akan materi yang diberikan padaku selain pengalaman yang sudah kujalani. Yah, mereka memberiku materi tentang “rahasia dibalik usia 40 tahun”. Dan salah satu alasan mengapa mereka menunjuk aku untuk  membawakan materi ini adalah karena hanya aku yang menurut mereka lebih pas untuk itu……(bersambung)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.